Hening Sejenak
Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dan dicobai oleh Iblis (Mrk 1:13)
Dalam sejarah Hidup Membiara, Padang Gurun menjadi tempat pelarian bagi orang-orang yang ingin mencapai kesempurnaan hidup. Pada saat itu Padang Gurun dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Roh Jahat. Mereka mencari suatu ketenangan. Di situlah orang-orang yang ingin lari dari dunia ini (istilah kerennya fu-gamundi). Mereka berusaha melawan setan-setan itu. Caranya? Tentu dengan tapa dan matiraga yang berat. Pada saat itulah biasanya setan akan datang dan mencobai mereka.
Apa yang dilakukan orang-orang zaman dahulu sebenarnya terinspirasi dari Yesus sendiri. Hari ini, dalam Injil, Yesus diceritakan menyendiri ke Padang Gurun untuk berdoa dan berpuasa. Setan merasa perlu menggoda Yesus yang sedang lelah dan lapar. Setan terus menyerang sisi kelemahan kemanusiaan Yesus. Itulah senjata utama setan yang juga sering terjadi dalam diri kita.
Tujuan hidup kita di dunia ini adalah mencapai persatuan dengan Allah. Untuk mencapai itu, kita berusaha mengenal diri sendiri dan memahami Allah. Dalam proses itu, kita menemukan “setan-setan” dalam diri kita. Setan-setan itu berupa kehendak bebas kita yang tak terkendali yang menjauhkan kita dari Allah. Itulah kiranya yang dialami oleh para pertapa zaman dahulu di Padang Gurun. Mereka menyendiri, namun justru menemukan diri mereka sendiri yang melawan kehendak baik mereka. Yesus sendiri berkata “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat 26:41). Sesuatu yang baik kita harapkan, namun seringkali terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Itu karena kita lebih mengikuti kehendak manusiawi kita. Maka perlulah untuk terus memperbaharui niat-niat baik kita dan tetap menjaganya hidup dalam diri kita.
Kita dapat merenungkan bahwa kita perlu mengalami saat Padang Gurun. Namun, tidak perlu kita pergi ke Padang Gurun yang asli, tetapi cukup menyediakan waktu untuk hening sejenak, keluar dari rutinitas yang selama ini mengekang kita dan menyadari diri: sedang apa? Di mana? Apa gunanya kita hidup? Tentu kita ingin mengenal diri kita lebih baik dan mengenal rencana Allah atas diri kita. Setelah kita bisa memahami bahwa ada hal kurang baik dalam diri, kita berusaha untuk merubah itu dan berusaha lebih baik lagi. Untuk tiap hal baik yang kita temukan, tentu itu semua akan menjadi penyemangat, daya hidup untuk terus dikembangkan bahkan menjadi sesuatu yang terus membuat diri kita bahagia.
Para pembaca terkasih, mari kita memasuki masa Prapaskah ini dengan mempersiapkan batin yang baik. Kita bisa mengandaikan masa Prapaskah ini sebagai saat Padang Gurun kita. Satu hal yang bisa kita bawa dalam permenungan kita adalah MENDENGAR SECARA LEBIH BAIK. Padang Gurun bisa menjadi saat yang baik untuk mendengarkan seluruh kehendak Tuhan dalam hidup kita. Suasana doa dan tenang sangat membantu kita untuk mendegar suara Tuhan yang begitu lembut itu. Kemudian, Pantang dan puasa yang kita lakukan bisa menjadi latihan rohani kita untuk mengendalikan keinginan-keinginan daging yang tak terkendali. Kita bisa menambahkan komitmen-komitmen atau program rohani kita dalam masa Prapaskah ini sebagai penunjang persiapan batin kita. Sudah sepatutnya kita bersyukur bahwa kita sedang mempersiapkan diri kita menjadi lebih baik lagi. Jadi, mari kita masuk da-lam keheningan dan mendengarkan lebih baik lagi apa yang Tuhan kehendaki atas diri kita.
Fr. Jonathan Christian M. – Novis SCJ