Kamis, 03 Mei 2012
KISAH 4 LILIN
Alkisah, ada 4 buah LILIN yang menyala. Sedikit demi sedikit lilin-lilin itu habis me-leleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan antar mereka.
Lilin yang pertama berkata, “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu men-jagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang Lilin pun padam.
Yang kedua berkata, “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata,
“Ekh… apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata,
“Jangan takut. Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya.”
“Aku adalah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Harapan yang ada dalam hati kita. Dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat seperti anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
Pojok OMK ( DAMAI SEJAHTERA TAK PERNAH KERING )
Kita bisa saja antri tiket di stasiun kereta api. Ketika kita semakin dekat ke loket, tiba-tiba ada pengumuman bahwa tiket habis. Kehabisan sesuatu bukanlah hal yang menyenangkan. Kehabisan uang apalagi. Bisa membuat orang kalang kabut.
Tetapi ada hal yang tidak akan pernah habis dan itu kita bisa miliki. Itu adalah damai sejahtera. Damai sejahtera Tuhan akan terus ada di dalam hati kita kecuali kita mengizinkan dia keluar dari dalam hati kita. Kendali ada di tangan kita.
Firman Tuhan dalam Yesaya 48:18 mengatakan "Sekiranya Engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti."
Firman Tuhan adalah ya dan amin. Jika Firman Tuhan berkata bahwwa damai se-jahteramu akan terus ada seperti sungai yang tidak pernah kering, memang demikianlah adanya.
Ketika seorang karyawati dimarahi habis-habisan oleh atasannya, si karyawati tetap tenang. Temannya bertanya, "Apa kamu tidak kesal dan sakit hati?"
Si karyawati menggeleng sambil tersenyum, "Saya melakukan kesalahan dan saya di-marahi. Tidak masalah, saya akan memperbaikinya. Tetapi damai sejahtera Tuhan dalam hati saya harus tetap ada, tidak saya izinkan orang atau situasi mengambilnya!"
"Tetapi marahnya keterlaluan. Kesalahanmu kecil, marahnya luar biasa!" temannya masih belum puas.
"Oooh, itu urusan dia dengan Tuhan. Saya mengampuninya, lalu melupakannya. Ya su-dah, selesai!"
Si karyawati memperhatikan dan melakukan perintah Tuhan, maka damai sejahteranya tidak pernah kering.
Hidup ini akan lebih menyenangkan bila kita tidak menyimpan sampah rohani. Memperbaiki kesalahan, mengampuni, melupakan membuat bejana hati kita bersih. Maka Tuhan akan mengisi hati kita dengan damai sejahtera yang akan melimpah keluar dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
Pilihan ada di tangan kita. Mau mempertahankan atau melepas damai sejahtera Tuhan yang ada dalam hati kita.
"Akulah Pokok Anggur Dan Kamulah Ranting-Rantingnya"
"Akulah Pokok Anggur Dan Kamulah Ranting-Rantingnya"
Ranting-ranting memang sangat tergantung pada batang/pokok pohon; kita semua adalah ranting-ranting dan sang pokok batang adalah Yesus, Tuhan dan Guru kita. Jika kita mendambakan menghasilkan buah yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan melalui cara hidup dan cara bertindak kita, maka kita diharapkan senantiasa bersatu dengan sang pokok, Yesus, alias melaksanakan semua perintahNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, karena bersama dan bersatu dengan Dia mau tak mau kita pasti akan dirajai atau dikuasaiNya. Maka pertanyaan bagi kita masing-masing yang beriman pada Yesus Kristus adalah 'apakah saya senantiasa bersama dan bersatu dengan Dia' dan dengan demikian senantiasa berbuat baik, berbudi pekerti luhur dimanapun dan kapanpun. Bersama dan bersatu dengan Yesus berarti hidup dari dan oleh RohNya, maka cara hidup dan cara ber-tindak kita akan menghasilkan buah-buah seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Bersatu dan bersama dengan Yesus senantiasa hidup saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh dan menghasilkan buah-buah yang menggembirakan. Secara konkret buah saling mengasihi antara suami-isteri adalah seorang anak manusia yang membahagiakan. Setiap orang adalah buah kasih, atau yang terkasih, maka kita bertemu dengan siapapun berarti kasih bertemu dengan kasih dan dengan demikian seacara otomatis saling mengasihi. Saling mengasihi berarti juga akan saling memuliakan, melayani dan memuji. Berkat Dalem.
Langganan:
Postingan (Atom)