pada tanggal 26-27 Maret 2011, Tim KPP tiga paroki Gisting, Pringsewu dan Kalirejo mengadakan kegiatan bersama digisting untuk penyegaran tim pemandu KPP dengan nara sumber dari jakarta. dan beberapa hasil jepretan tim redaksi adalah sebagai berikut.
:
Kamis, 14 April 2011
Minggu, 03 April 2011
RENUNGAN
LUKAS 8:1-3
Banyak di antara kita yang menemukan kesulitan di kala kita harus menentukan tujuan hidup. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup pun muncul, misalnya: Mengapa kita hidup? Dari mana kita hidup?, Untuk apa kita hidup?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu membuat kita berpikir dan berrefleksi tentang hidup kita. Hidup yang tidak asal dihidupi tetapi hidup yang dimaknai. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa, ”segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan tertuju kepada Allah”. Lalu, tujuan manusia hidup di dunia adalah segala tingkah laku, perbuatan dan akal budi terarah sepenuhnya kepada Allah. Bukan berarti bahwa setiap saat selalu menggunakan tanda salib kemana pun kita pergi atau melakukan suatu kegiatan tertentu. Kebiasaan itu baik, tetapi lebih jauh dari tindakkan itu adalah sikap batin yang selalu siap menyambut Tuhan dan mengarahkan segenap karsa dan karya tertuju kepada Allah.
Yesus tahu persis apa tujuan utamanya hadir di dunia. Putra Allah masuk dalam sejarah manusia, menjadi sama dengan manusia, bisa disentuh, bisa didengar. Kehadiran Yesus di dunia tidak lain hanyalah mewartakan Kerajaan Allah. Sabda Yesus yang penuh kuasa dalam pengajaran dan karya Yesus yang di luar batas kemampuan manusia memikat banyak orang untuk datang kepada-Nya. Mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan Yesus menghantar banyak orang mengerti dan memahami bahwa Yesus utusan Allah. Sedangkan Yesus menggunakan mukjizat-mukjizat sebagai tanda bahwa Allah datang menyertai umat-Nya. Mukjizat itu sebagai tanda, sehingga bisa dipahami jika Yesus tidak selalu melakukan mukjizat pada saat dibutuhkan banyak orang. Ketika Yesus dikerumuni banyak orang dengan berbagai penyakit, Yesus tidak menyembuhkan semua penyakit dari mereka yang datang.
Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bahwa Yesus beserta rombongan keduabelas murid dan perempuan-perempuan yang disembuhkan oleh Yesus melanjutkan perjalanan untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah dari kota-ke kota, desa ke desa. Yesus mewartakan keselamatan kepada semua orang. Sabda-Nya yang penuh wibawa dan kuasa Ilahi dan karya-Nya yang menakjubkan mampu membuat kagum banyak orang. Yesus tidak terikat pada suasana nyaman itu, tetapi mampu bergerak keluar dan mewartakan Kerajaan Allah di kota-kota lain. Yesus mampu keluar dari rasa nyaman karena diterima, disanjung, dikagumi oleh banyak orang. Yesus tidak merasa terikat dengan kekaguman, sanjungan, pujian orang lain lantaran kehebatan-Nya.
Di saat Yesus melanjutkan karya-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah ke kota-kota dan desa-desa lain, ada beberapa perempuan yang turut serta dalam rombongan. Para perempuan itu adalah orang-orang yang telah disembuhkan oleh Yesus dari segala penyakit dan gangguan roh jahat. Mereka melayani rombongan Yesus dan para murid dengan kekayaan mereka sebagai ungkapan syukur karena karya Allah bekerja atas mereka.
Masih bisakah kita saat ini merasakan dan mengalami Kerajaan Allah? Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja, Allah yang peduli akan manusia, Allah yang dekat dengan manusia Allah yang mencintai. Lalu, ”Bagaimana kita bisa merasakan bahwa Allah itu peduli dan mencintai kita?” Cinta dan kepedulian Allah itu tampak secara nyata dalam sapaan tetangga yang ramah, senyum yang tulus dari teman, telephon dari seorang sahabat, bantuan dari teman dan lain sebagainya. Cinta dan kepedulian Allah nyata dalam sesama. Apakah kita mampu terbuka akan kenyataan ilahi itu? Ataukah kita hanya menganggap bahwa senyum dan bantuan itu secara otomatis, bahwa teman kita tersenyum, teman kita membantu memang layaknya begitu. Allah bisa menyapa, menampakkan kebaikan melalui sesama kita.
Banyak di antara kita yang menemukan kesulitan di kala kita harus menentukan tujuan hidup. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup pun muncul, misalnya: Mengapa kita hidup? Dari mana kita hidup?, Untuk apa kita hidup?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu membuat kita berpikir dan berrefleksi tentang hidup kita. Hidup yang tidak asal dihidupi tetapi hidup yang dimaknai. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa, ”segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan tertuju kepada Allah”. Lalu, tujuan manusia hidup di dunia adalah segala tingkah laku, perbuatan dan akal budi terarah sepenuhnya kepada Allah. Bukan berarti bahwa setiap saat selalu menggunakan tanda salib kemana pun kita pergi atau melakukan suatu kegiatan tertentu. Kebiasaan itu baik, tetapi lebih jauh dari tindakkan itu adalah sikap batin yang selalu siap menyambut Tuhan dan mengarahkan segenap karsa dan karya tertuju kepada Allah.
Yesus tahu persis apa tujuan utamanya hadir di dunia. Putra Allah masuk dalam sejarah manusia, menjadi sama dengan manusia, bisa disentuh, bisa didengar. Kehadiran Yesus di dunia tidak lain hanyalah mewartakan Kerajaan Allah. Sabda Yesus yang penuh kuasa dalam pengajaran dan karya Yesus yang di luar batas kemampuan manusia memikat banyak orang untuk datang kepada-Nya. Mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan Yesus menghantar banyak orang mengerti dan memahami bahwa Yesus utusan Allah. Sedangkan Yesus menggunakan mukjizat-mukjizat sebagai tanda bahwa Allah datang menyertai umat-Nya. Mukjizat itu sebagai tanda, sehingga bisa dipahami jika Yesus tidak selalu melakukan mukjizat pada saat dibutuhkan banyak orang. Ketika Yesus dikerumuni banyak orang dengan berbagai penyakit, Yesus tidak menyembuhkan semua penyakit dari mereka yang datang.
Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bahwa Yesus beserta rombongan keduabelas murid dan perempuan-perempuan yang disembuhkan oleh Yesus melanjutkan perjalanan untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah dari kota-ke kota, desa ke desa. Yesus mewartakan keselamatan kepada semua orang. Sabda-Nya yang penuh wibawa dan kuasa Ilahi dan karya-Nya yang menakjubkan mampu membuat kagum banyak orang. Yesus tidak terikat pada suasana nyaman itu, tetapi mampu bergerak keluar dan mewartakan Kerajaan Allah di kota-kota lain. Yesus mampu keluar dari rasa nyaman karena diterima, disanjung, dikagumi oleh banyak orang. Yesus tidak merasa terikat dengan kekaguman, sanjungan, pujian orang lain lantaran kehebatan-Nya.
Di saat Yesus melanjutkan karya-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah ke kota-kota dan desa-desa lain, ada beberapa perempuan yang turut serta dalam rombongan. Para perempuan itu adalah orang-orang yang telah disembuhkan oleh Yesus dari segala penyakit dan gangguan roh jahat. Mereka melayani rombongan Yesus dan para murid dengan kekayaan mereka sebagai ungkapan syukur karena karya Allah bekerja atas mereka.
Masih bisakah kita saat ini merasakan dan mengalami Kerajaan Allah? Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja, Allah yang peduli akan manusia, Allah yang dekat dengan manusia Allah yang mencintai. Lalu, ”Bagaimana kita bisa merasakan bahwa Allah itu peduli dan mencintai kita?” Cinta dan kepedulian Allah itu tampak secara nyata dalam sapaan tetangga yang ramah, senyum yang tulus dari teman, telephon dari seorang sahabat, bantuan dari teman dan lain sebagainya. Cinta dan kepedulian Allah nyata dalam sesama. Apakah kita mampu terbuka akan kenyataan ilahi itu? Ataukah kita hanya menganggap bahwa senyum dan bantuan itu secara otomatis, bahwa teman kita tersenyum, teman kita membantu memang layaknya begitu. Allah bisa menyapa, menampakkan kebaikan melalui sesama kita.
Langganan:
Postingan (Atom)